Slide 1

Berita Pusdatin > Focus Group Discussion Produksi Film Dokumenter/Film pendek Infrastruktur Bidang PUPR


Senin, 17 Desember 2018, Dilihat 63 kali

Foto Bersama Pembahas, Pejabat, staf dan Peserta pada Sesi 1 dan 2 Focus Group Discussion Produksi Film Dokumenter/Film Pendek Infrastruktur Bidang PUPR (Foto : Mochammad Wisnu Pradana)

Balai Produksi dan Informasi Audio Visual atau biasa dikenal BPIAV di bawah Pusat Data dan Teknologi Informasi, Sekretariat Jenderal Kementerian PUPR adalah institusi pemerintah yang mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan produksi dan pengelolaan informasi audio visual serta peningkatan sumber daya pelayanan komunikasi dan informasi publik bidang Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Beberapa produk informasi Audio Visual yang diproduksi salah satunya adalah film dokumenter. Dalam setiap video/tayangan, tentu memerlukan evaluasi untuk perbaikan serta peningkatan dari video/tayangan yang telah dihasilkan. Berkaitan dengan hal tersebut Balai Produksi dan Informasi Audio Visual merasa perlu untuk melakukan evaluasi terhadap kualitas video atau tayangan yang telah dilakukan serta dapat mengetahui trend baru yang up to date, baik secara teknis pengambilan gambar maupun ide cerita dalam penyampaian konten/pesan yang ada pada produk yang film yang dihasilkan BPIAV .

Balai Produksi dan Informasi Audio Visual menyelengarakan evaluasi melalui Focus Group Discussion (FGD) Produksi Film Dokumenter/Film Pendek Infrastruktur Bidang PUPR yang dirasa cukup cepat, efektif dan efisien secara biaya maupun waktu pelaksanaan.

Focus Group Discussion (FGD) Produksi Film Dokumenter/Film Pendek Infrastruktur Bidang PUPR yang dilaksanakan pada Selasa 13 November 2018, bertempat di Best Western Papilio Hotel, Jl. Ahmad Yani Gayungan Surabaya Jawa Timur.

Kegiatan ini dilaksanakan 2 sesi yakni sesi pertama yang dipandu oleh Bapak Zainal Arifin Emka,M.Si, selaku pembahas pertama, dengan peserta sebanyak 11 orang dan sesi kedua yang dipandu oleh Bapak Rahmad harianto, SIP, M.Med.Kom, sebagai pembahas kedua, dengan 11 peserta. Pelaksana kegiatan adalah pejabat dan staf di Balai Produksi dan Informasi Audio Visual, khususnya yang bertugas dalam menangani pengelolaan data dan informasi audio visual.

 

Kegiatan Focus Group Discussion Produksi Film Dokumenter/Film Pendek Infrastruktur Bidang PUPR pada sesi 1 dan 2 peserta sangat antusias menyaksikan produk film BPIAV dan berdiskusi menyampaikan kritik saran untuk produk Film BPIAV yang lebih baik (Foto : Ilham Rosyada)

 

Penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) Produksi Film Dokumenter/Film Pendek Infrastruktur Bidang PUPR merupakan sarana untuk mengevaluasi produk AV yang telah dihasilkan oleh Balai Produksi dan Informasi Audio Visual, yang dilakukan oleh pihak eksternal atau masyarakat umum berjumlah 22 orang dan dibagi menjadi 2 sesi 11 orang di masing masing sesi yang mencakup pekerja media, akademisi, pemda, dan praktisi bidang audio visual.

Produk film yang di evaluasi pada kegiatan FGD kali ini yaitu sebanyak 10 film, yakni 5 film di sesi pertama dan 5 film di sesi kedua. Pada sesi pertama pemutaran dan diskusi film yang berjudul Waduk Bajul Mati untuk Esok Lebih Baik, Bendungan Multi Fungsi Bintang Bano, Dukungan Spam Umbulan, Membangun Bendungan Karian Mewujudkan Ketahanan Air, Revitalisasi TPA Sarbagita Suwung Bali. Pada sesi pertama, diputarkan film berjudul Rusunawa Tulungagung, Meraih Asa di Andalas Sumatra, KSPN Borobudur, Persembahan Rumah Bagi Nelayan, Jembatan Suramadu.

Banyak respon kritik maupun saran yang disampaikan oleh peserta untuk BPIAV di antaranya pengemasan produk film perlu diperbanyak varian yang dibagi ke beberapa segmentasi penonton, agar pesan dan informasi yang ingin disampaikan dapat dimengerti semua kalangan masyarakat. Keseluruhan film dirasa perlu banyak perbaikan dengan memperbanyak referensi tayangan yang bertujuan untuk membangun dan memperbarui ide kreatif cerita serta teknis pengambilan gambar serta editing video yang lebih up to date dan diharapkan produk film yang dihasilkan BPIAV ke depannya dapat lebih baik dari sekarang dan terus berkembang.

Diharapkan Balai Produksi Dan Informasi Audio Visual dapat menjadi pelopor dan referensi bagaimana  menciptakan media atau tayangan informasi milik pemerintah yang cocok di berbagai kanal media, baik media sosial maupun media kontemporer, serta mempunyai standar tayangan yang bisa dinikmati seluruh lapisan masyarakat Indonesia. (Sholahuddin Zakaria)